Sabtu, 27 Januari 2018

Jejak A – Z Agroekologi and Organic Food System Course 1-30 September 2015, Dehradun, Uttarakhan India.

Benih benih lokal Earth University Navdanya Utarakhan

Pada tahun 2014 yang lalu, saya diundang oleh Kibar Kediri Dian Pratiwi Pribadi.
Kami diminta untuk mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Kibar Kediri dalam rangka Merayakan Hari Pertanian Keluarga 2014. Seiring waktu kami akhirnya turut meramaikan bersama Mantasa, Pesantren Ath Thaariq, API, dan beberapa organisasi lokal lainnya.
Bukan saja diminta untuk memamerkan benih dari Pesantren Kebon Sawah, kamipun diminta untuk mengisi workshop pembuatan Vermicompost,  juga diminta untuk menjadi moderator seminarnya dimana salah satu pembicaranya adalah Vandana Shiva.  

Mentimun yang ditanam dengan sistem Agro Ekologi di Bija Vidya Peeth
Pada 6 bulan yang lalu, saya diundang oleh Hayuh Diah Patria untuk menjadi Fasilitator Pendidikan Pertanian Organik di Mendira Jombang, awal pembicaraan A – Z Agroekologi and Organic Food System  Course ini dimulai dari sini, kemudian dikuatkan oleh Yayasan Kehati yang merekomendasikan saya berangkat ke Navdanya.
Menjejakkan kaki bersama 10 orang lainnya dari Indonesia sebagai rombongan terbesar dalam kursus ini di area biodiversity Navdanya, sebuah kesenangan tersendiri. Dengan kawan baru dari berbagai pulau dan berbagai latar belakang keahlian, namun mempunyai visi yang sama berbasis pengembangan agro ekologi. Ditambah dengan teman dari berbagai negara, sebuah tantangan sendiri untuk mengembangkan lebih matang kualitas utama pada diri saya.
Area Biodeversity Navdanya, seolah melihat kembali kebun kebun di tanah air. Saya begitu ingat dengan “kebun talun”, sebuah kebun sosial yang dikelola dan dimiliki masyarakat desa di Jawa Barat, dimana kebun tersebut  dipenuhi oleh berbagai keanekaragaman tanaman, baik pangan, obat serta tegakan kayu dan bambu sebagai penyuplai air danau, sebuah sistem yang berpatokan pada pemenuhan ekonomi dan ekologi  lingkungan setempat..  Kepemilikan area Navdanya memang berbeda, namun yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini adalah bukan sistem kebun talun, namun segala sesuatu pengamatan saya di area Navdanya sebagai area biodiversity.
Salah satu sessi dari kegiatan 

Menarik belajar kebun mangga dimana pohonnya besar besar (sebesar hampir dua pelukan) dan sama tingginya di depan kamar kami, yang dibawahnya ditumbuhi kunyit, temulawak dan temu kunci. Empon – emponan selalu menarik untuk dipelajari. Di tanah air bila kita amati dengan leluasa, selain empon emponan, begitu banyak pula jenis umbi umbian yang sifatnya sama bisa tumbuh baik dibawah kerindangan pohon pohon bambu. Dua jenis tanaman ini buat saya adalah sebuah proses luar biasa untuk menghasilkan sebuah sistem/skema dimana kita tetap bisa bertanam tanpa mengganggu tanaman lainnya, utama pohon pohon besar yang akan memberikan kontribusi besar terhadap pasokan oksigen untuk lingkungan kita, dengan tidak harus mengkhawatirkan kekurangan pasokan pangan dan obat dibawah lindungannya. Alam begitu cerdik dan cerdas dalam mengatur semua sistem tersebut. Kedua jenis tanaman inipun sama sekali tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan batang dan daun, juga bunga dan buah, pohon utama seperti mangga dan bambu. Begitupun pula pohon lainnya seperti ditanah air (ingat pada sistem kebun talun). Kehebatan lainnya dari kebun mangga disini adalah pohon pohon menjadi rumah burung bagi beberapa species. Yang saya lihat adalah tempat bermain tekukur, hinggapnya jalak  hitam serta burung putih seperti yang sering hinggap di sawah sawah kami. Bila malam hari tiba, saya selalu mengamati  jenis jenis serangga yang sering  hinggap di dinding jendela kamar kami, hampir ada sekitar 12 jenis dengan bentuk serangga yang berbeda.
Pada setiap pagi, kami selalu mendapat giliran untuk bekerja di beberapa area, saya pikir ini bukan sekedar piket pembagian kerja, namun lebih sangat dekat pada pengenalan area setempat. Saya paling senang bila sudah berada di kebun, mengenal desainnya, mengenal jenis tanamannya,  mengenal berbagai jenis binatangnya utama mengenal jenis tanahnya. 

Tidak sulit mencabuti rumput, itu pertanda baik!
Pada waktu pertama mendapat bagian membersihkan kebun, saya menemui begitu bercampurnya antara tanah berpasir dan batu kerikil di area ini. Sebuah struktur tanah yang  menurut saya begitu sulit untuk dikategorikan sempurna, jauh seperti  tanah di dataran Parahiyangan ditempat saya berkebun dan tinggal. Diatasnya terdapat banyak daun/serasah kering, membuatnya begitu lembab sedikit basah dan sangat segar kondisi tanahnya. Kesegaran tanah tersebut yang membuat saya sangat tertarik. Saya senang sekali mendapat pengetahuan mana tanah yang kering dan tanah yang segar, tanah yang berlumut, tanah yang basah dan tanah yang lembab, tanah lengket, tanah yang rangu, tanah yang kering namun sehat dan tanah yang kering namun tidak sehat, begitupun sebaliknya. Tapi tanah yang lembab sekaligus rangu dibawah daun serasah kering selalu membuat saya jatuh cinta pada satu tempat tersebut.
Dimanapun tempatnya di Bija Vidya Peeth ini, saya tidak menemukan kesulitan dalam mencabuti rumput, baik dengan tangan maupun dengan alat. Ada juga satu dua rumput yang sulit dicabut, itu pasti rumputnya telah tinggi dan akarnya mengakar kedalam.
Area ini dipenuhi pula oleh berbagai macam tanaman pangan, selalu saya bilang, yang keren itu pasti tanaman lokal! Tanaman setempat yang telah sesuai dengan situasi dan kondisi setempat, yang tidak membuat banyak keluar tenaga, menanam dalam jumlah sedikit namun banyak jenis, ini membuat mereka saling melindungi. Pengetahuan itu sudah saya terapkan jauh sebelum saya mengenal Vandana Shiva dan Universitas of The Earth, saya adalah pendengar yang sangat baik bagi tutur para orang tua saya di kampung, dan tutur kata Vandana Shiva serta para guru di Universitas Of The Earth semakin menguatkan keyakinan saya pada sistem Agro Ekologi.
Bertukar Benih 
Dominasi berbagai Legum dan Karbohidrat, aku dapatkan pada area kebun di belakang  Universitas of The Earth. Okra, berbagai jenis kemangi, oyong, talas,  jahe, wijen, kacang tunggak, kunyit, dan lain sebagainya.
Belajar banyak dari sistem yang dibangun di kawasan ini, saya sangat menghargai kehadiran Mantasa di Indonesia, sebagai lembaga yang telah menghadirkan dan menghadiahi saya untuk pergi ketempat yang paling tepat yaitu Earth University di Dehradun Uttarakhan India Utara.
Terima kasih


Catatan Terbengkalai karena terus berteman dengan tanah

Mengolah Mie Sagu, Belajar dari Kehebatan Ecology Sungai Tohor Kepulauan Meranti

Merebut Kedaulatan Pangan dengan Cara Cara Sederhana dan Gembira 

Ibu Ibu di Bengkel Kerja milik Pak Abdul Manan, bersama bekerja membuat Mie Sagu Rumbia (Mei 2017)


Sagu Pohon Rumbia/Rumbio/Kiray
Salah Satu Kilang Sagu Rumbia di
Sungai Tohor
Sagu adalah salah satu bahan pangan lokal bernutrisi tinggi, dekat, gampang diakses, segar, karbohidrat yang tidak mengandung glukosa, kapanpun bisa didapat, dan banyak sekali keluaran olahannya. Sagu paling penting bagi kehidupan, karena sagu mampu menjadi pasokan pangan lokal dan akan mampu berdaulat.
Pohon  Sagu adalah, salah satu contoh penyuplai air untuk Danau Rano di Sulawesi Tengah dan saya merasa tertantang untuk mengolah lebih banyak penganan berbahan Sagu. Jika tidak ada pohon pohon Sagu, masyarakat di sekitar danau Rano akan kekurangan air karena jumlah debitnya menurun, tidak akan mendapatkan ikan dan














MEMBUAT MIE SAGU
Mencuci Sagu
Cik Manan, mencuci Sagu di halaman
rumah beiau
Pelajaran pertama adalah Untuk mendapatkan Sagu Mentah  yang begitu putih sekaligus bersih dibuat secara alami adalah setelah diambil dari kilang Sagu (sudah berbentuk tepung basah, namun belum sepenuhnya bersih, masih bercampur dengan kayu kayu sisa penggilingan, Tepung Sagu basah tersebut dimasukkan didalam jolang jolang besar atau tong tong besar, kemudian diaduk, diamkan selama tiga jam atau satu malam, baru setelah itu secara otomatis ampasnya terangkat ke atas. Keesokannya sebelum dibuang, diaduk terlebih dahulu air yang ada di permukaan kemudian dibuang dengan cara tongnya dimiringkan, Sagunya sendiri mengendap dibawah dengan kuat, dan kelihatan sangat putih dan sangat bersih.
Sagu dimasukkan ke karung karung, digantung agar cepat kering.
Jumlah satu karung sekitar 20 kg.
Pada fase ini kita bisa memulai mengolah awal pembuatan Mie Sagu tanpa harus menunggu sagu kering.








Bola Bola Sagu
Bola Sagu Mentah
Siapkan kain segi empat untuk membentuk sagu seperti bola. Simpan kain tersebut, kemudian pecahkan lebih lembut sagu basah diatas kain, perkirakan jumlahnya seperti akan mengolah sebesar bola sepak.Bentuk kain  seperti gembolan, putar kain yang bersisi sagu sampai membentuk bola, tidak boleh pecah ketika dididihkan.
dan siapkan di tempat lain air mendidih di katel ukuran secukupnya, bila perlu katel paling besar agar leluasa merebus sagu basah yang telah dibentuk sebesar bola dan merebus lempengan lempengan sagu yang telah diuli, tingginya air di katel sesuai dengan ketinggian sagu berbentuk bola tersebut.
Bola sagu direbus barang 5 menit, dan telah terbentuk lemnya yang kuat diluar bola sagu tersebut dengan ketebalan sekitar 3 mili, bola sagu harus segera diangkat untuk diuli.












Bola Sagu yang telah dididihkan, dipecah
menjadi empat. Kemudian diuli sampai kalis
Uli
Bola Sagu yang dididihkan sebelum
di uli untuk mendapatkan lemnya
Bola sagu diangkat, disimpan di meja kayu, dibelah empat seperti buah. Langsung diuli, dibolak balik sampai lentur dan kalis, gunakan lem dari bola sagu sebagai perekatnya, sesekali diberi air panas sedikit, bila diperlukan, untuk lebih kalis lagi.











Penggilingan Lembaran Sagu
Lempengan Sagu dibuat dengan
memakai mesin giling roti kecil
Setelah kalis dan membentuk bulatan, siapkan botol limun untuk :
1.      Ratakan adonan
2.      Bentuk menjadi segi empat berukuran tebal,
3.      Ratakan kembali lebih besar dan lebih tipis membentuk ukuran yang sama (segi empat juga) dengan ukuran mesin penggiling, memakai botol bekas sirop.
4.      Giling oleh mesin penggiling (mesin sederhana saja) untuk mendapatkan lembaran lembaran  sagu yang tipis dan panjang.
Jangan lupa tumpukan lembaran sagu yang belum dimasukkan kedalam katel, harus ditutup, jika tidak ditutup, kadar airnya mengering sehingga akan patah atau robek ketika akan dimasukkan kedalam  katel yang berisi air mendidih.











Perrebusan Lembaran Sagu
Perrebusan Lempengan Sagu
Lembaran lembaran sagu disimpan di baki hasil penggilingan mesin pembentuk lembaran sagu, ditumpuk, setelah didapat banyak lembaran sagu,  kembali ke katel yang airnya mendidih. Masukkan satu persatu, cukup 8 lempengan saja, agar tidak bertumpuk dan tidak menempel satu sama lain. Setelah lempengan naik ke atas,  bulak balik, angkat, simpan dibaki plastik dengan diisi air dingin atau kalau dalam jumlah banyak simpan dahulu di jolang yang diisi penuh air dingin, baru disimpan di baki untuk segera di ampai.
Diampai
Perampai atau  diampai, adalah kegiatan menjemur lembaran sagu yang disimpan di batang batang rumbia, untuk proses pendinginan selama satu malam.
Lempengan sagu yang telah diangkat, langsung disimpan di batang  pelepah rumbia yang telah dijajarkan atau dibentuk seperti para para. Pelepah batang rumbia digunakan karena cukup besar batangnya, ini penting agar ketika diampai atau disimpan seperti jemuran, lembaran sagu tidak bertemu dan tidak akan menempel ketika diangin anginkan  lembarannya, karena jaraknya cukup jauh.
Lembaran sagu yang telah disusun rapi, diangin angin selama satu malam. Baru keesokan harinya digiling setelah lembaran kering cukup.


Pengampaian dan Penjemuran Lembaran Sagu
Penjemuran
Penjemuran harus didalam ruangan, lembaran sagu yang telah diampai tidak boleh terkena langsung sinar matahari, perlakuan ini penting agar lembaran sagu tidak berkerut

Penggilingan Lembaran Sagu menjadi Mie
Setelah semalaman diangin anginkan, kemudian pagi pagi diambil, disusun menumpuk. Barulah digiling dengan mesin penggiling mie.

Pemeraman
Setelah lembaran sagu kering di pengampayan, siapkan terpal untuk pemeraman barang dua atau tiga jam sebelum digiling, ini bertujuan agar lembaran sagu tidak keras atau menjadi lentur/lemas ketika akan digiling.
Terpal disimpan di lantai, simpan tumpukan tumpukan lembaran sagu  yang diambil dari pengampaian dengan rapih diatas terpal, setelah selesai, masing masing sisi terpal digunakan untuk menutup tumpukkan lembaran sagu.






Bahan Pembuatan Mie Sagu
1.      Sagu basah
2.      Sagu kering
3.      Air
4.      Garam

Peralatan Pembuatan Mie Sagu dan kegunaannya
No
Nama Barang
Kegunaan
1.
Tungku (gas atau kayu bakar)

2.
Katel Besar

3.
Sosodok berlubang
Untuk mengangkat lembaran sagu dari air mendidih
4.
Ember Kecil dan Gayung
Mengangkat air
5.
Kain segi empat
Untuk membentuk bola bola sagu
6.
Jolang besar
berisi air dingin untuk mendinginkan lembaran sagu yang baru diangkat dari air mendidih
7.
Baki plastik sedang
Menyimpan lembaran sagu dari jolang besar untuk diampai
8.
Baki plastik atau seng ukuran besar
Untuk menyimpan lembaran sagu kering yang baru digiling mesin penggiling

Baskom plastik tinggi kecil
Untuk mengangkat bola sagu dari yang telah dididihkan
9.
Botol limun
Untuk Meratakan sagu yang telah digiling
10.
Meja meja kayu berkaki pendek ukuran 75cm x 75cm untuk Uli Sagu
Untuk menguleni/uli Sagu mentah menjadi bahan adonan yang kalis

Pisau
Memotong adonan sagu menjadi segi empat
11.
Botol limun
untuk meratakan sagu yang telah diratakan, dibagi bagi menjadi segi empat dan lebih tipis seukuran mesin giling
12.
Mesin penggiling terigu serba guna ukuran kecil
Untuk menggiling hasil adonan yang telah diuleni menjadi lembaran lembaran sagu
13.
Batang batang sagu/bambu tali
Untuk mengampai (menjemur)
14.
Terpal
Untuk menyimpan lembaran sagu yang telah kering dan lembaran sagu yang telah digiling menjadi mie
15.
Plastik
Untuk menyimpan mie dalam ukuran kecil (0,5 kg)
16.
Timbangan
Menimbang Mie


Jika anda kesulitan untuk membuat Mie Sagu Pohon Rumbia/Kiray

Silahkan hubungi WA saya di 081222302024 atau Mesenger Nissa Wargadipura






Penggilingan Lembaran Sagu Kering menjadi Mie Sagu




Bola sagu yang baru diangkat dari air mendidih dan Sagu yang sudah kalis,
siap dibuat lembaran Sagu

Perjalanan Panjang Belajar Pengolahan Sagu ke Sungai Tohor Provinsi Riau


Pelabuhan Tanjung Buton Kabupaten Siak
Perjalanan Panjang Belajar Pengolahan Sagu
Sering saya bertandang ke daerah daerah yang tempatnya didominasai Sagu, sagu adalah makanan lokal setempat yang bernutrisi tinggi, dekat, gampang diakses, segar, karbohidrat yang tidak mengandung glukosa, kapanpun bisa didapat, dan banyak sekali keluaran olahannya. Sagu paling penting bagi kehidupan, karena sagu mampu menjadi pasokan pangan lokal odan akan mampu berdaulat. Pohon  adalah, salah satu contoh penyuplai air untuk Danau Rano di Sulawesi Tengah dan saya merasa tertantang untuk mengolah lebih banyak penganan berbahan Sagu. Jika tidak ada pohon pohon Sagu, masyarakat di sekitar danau Rano akan kekurangan air karena jumlah debitnya menurun, tidak akan mendapatkan ikan dan
Pada Ramadhan minggu kedua, tepatnya akhir Mei 2017, saya berrencana untuk tinggal di rumah Bapak Abdul Manan, seorang Tokoh Penggerak sekaligus pemilik Kilang Sagu dan mendampingi Komunitas Ibu Ibu untuk pengolahan Sagu menjadi Mie Sagu, Sagu Telur, Sagu Lemak, Kue dan Sampolet Sagu di Sungai Tohor di Pulau Tebing tinggi di Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kepulauan Meranti.
Meranti merupakan pulau kecil bergambut yang berhadapan dengan Selat Malaka.
Pak Abdul Manan, SE Warga Jalan Sentosa Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Beliu adalah salah satu Nominator Penerima Penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup RI.  Abdul Manan aktif menyelamatkan lingkungan lahan gambut yang berada didesanya Sungai Tohor dengan cara mendorong masyarakat melestarikan lahan gambut, dengan cara mempertahankannya dari kekeringan sehingga fungsi gambut yang cocok dengan tanaman sagu yang menjadi salah satu komoditas perkebunan Sagu masyarakat tetap lestari.
Berbagai usaha telah dilakukan Cik Manan, begitu panggilannya, dan sayapun ikut memanggilnya Cik, beliau memulai pekerjaannya dari melakukan sosialisasi guna mendorong masyarakat untuk mempertahankan lahan Gambut agar tidak terjadi kekeringan, dengan membangun sekat kanal yang tepat, hingga melakukan penanaman Mangrove untuk menjaga bibir pantai dari hantaman Abrasi yang selama ini menjadi masalah dikawasan bibir pantai Meranti. Dan saya ditunjukkan langsung oleh beliau bentuk bentuk dari sekat kanal.
Roro, Kapal yang membawa kami
ke Sungai Tohor
Saya sendiri berangkat ke Sungai Tohor direkomendasikan oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), dan sangat terbantu oleh teman teman di Walhi Riau.
Selama lima hari, empat malam, kami (saya, Nurmin, Cik Manan, Istrinya dan adiknya dan keluarga besar Cik Manan) terus berdiskusi, belajar bekerja, istirahat, terawih di rumah dan mencicipi pada saat berbuka serta sahur dengan mie sagu serta berbagai olahan dari sagu yang disuguhkan Cik Lili istri Cik Manan. Amboi Masakan Melayu itu memang selalu istimewa.
Cik Manan meyakini dengan menjaga kelestarian lingkungan sebagai kearifan lokal turut berimbas pada meningkatnya ekonomi masyarakat dari sektor pertanian dan perkebunan, karena kesuburan tanah akan terjaga dan hasil perkebunan masyarakat meningkat. "Jika ingin meningkatkan ekonomi masyarakat khususnya yang mengantungian hidup dari pertanian dan perkebunan tidak ada cara lain selain menjaga kearifan lokal, jika itu diabaikan maka akan munculah kemiskinan," paparnya.
Hutan Rawa dan Gambut yang lebat dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, saya melihat masih banyak kera salah satunya yang menjadi indikator bahwa keanekaragaman hayati terjaga cukup baik..
Pohon Rumbia atau Sagu  mendominasi area Sungai Tohor, masyarakat mengolah Sagu Basah untuk menunjang kehidupan ekonomi mereka. Sagu di panen di kebun Sagu milik masyarakat, berusia kurang lebih 10 tahun, ditebang, dibawa melalui jalur anak Sungai Tohor,  dinaikkan ke pekarangan Kilang Sagu, diparut dengan mesin, diputarkan dengan air untuk mendapatkan endapan sagu, baru kemudian setelah empat jam mendapatkan Sagu Basah.

Salah satu Kilang Sagu Sungai Tohor
Sungai Tohor dikunjungi banyak Tokoh
Mengenal lebih dekat dengan masyarakat Sungai Tohor yang merasa terancam dengan keberadaan perusahaan-perusahaan hutan tanam industri (HTI) yang telah menguasai lahan mereka. Perusahaan-perusahaan itu dinilai telah mengancam lahan gambut akibat sistem kanalisasi yang membuat gambut kering dan mudah terbakar. Hal itu turut berdampak pada menurunnya produksi sagu rakyat yang ramah gambut.Cik Manan pada 26 November 2014 membawa Presiden Joko Widodo melihat bendungan yang dibuat masyarakat secara swadaya, saat ini baru ada dua dari sepuluh dam sepanjang 2 kilometer yang akan dibangun untuk menghambat laju air gambut agar tidak terbuang ke laut akibat kanalisasi oleh perusahaan.  Sistem kanalisasi yang dibuat oleh perusahaan di desa tersebut membuat air gambut banyak terbuang ke laut. Akibatnya, gambut akan mengering dan mudah terbakar serta dapat menghambat pertumbuhan kebun sagu rakyat yang dinilai lebih bersahabat dengan gambut. Bendungan, ujar dia, perlu dibangun agar gambut terus tergenang air.
Sebelumnya Pada Januari 2014 diadakan Festival sagu yang dikemas dalam pagelaran pesta rakyat dalam rangka HUT Ke-5 Kabupaten Kepulaun Meranti dan HUT Ke-3 Kecamatan Tebing Tinggi Timur berlansung sangguh meriah dan spektakuler bersama Komunitas Pecinta Lingkungan dan Artis tenar Indonesia. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau dan Nasional ikut mengambil andil dengan membawa lansung 2 (dua) personil Padi Band yakni Fadli (Vokalis) dan Rindra (Basis), Iksan Skuter dan Yosep. Pada bulan Juni, Melanie Subono, datang pula untuk festival kelola rakyat WALHI.
Dermaga Sungai Tohor

Menyusuri Kepulauan Meranti
Pada 31 Mei 2017, mulai melakukan perjalanan cukup panjang, bersama Nurmin Dewo salah satu santri sekaligus Guru Agro Ekologi Pesantren Ath Thaariq Garut, jam 6 pagi berangkat menuju bandara Husain Sastranegara Bandung untuk terbang ke Pekan Baru.
Pada jam 14.00 landing, langsung ke Hotel Evo di jalan Sudirman atas rekomendasi Rio Susanto, Staff Walhi Riau. Istirahat sejenak
Rumah Rumah dengan Lahan
Pekarangan yang Luas di Sungai Tohor
Kami menuju Tanjung Buton, agar tidak terlalu sore datang ke Sungai Tohor, kami berangkat sekira jam 08 pagi dari Hotel, diperkirakan jam 13. sampai di Pelabuhan Tanjung Buton.
Pelabuhan Tanjung Buton sebenarnya nama pelabuhan kedua di Riau. Pelabuhan itu diapit oleh pesisir timur Pulau Sumatera dengan selat Pulau Padang di Kabupaten Meranti, Riau. Pelabuhan Tanjung Buton ada di Kecamatan Sungai Apit,Kabupaten Siak, menuju kesana pada waktu itu ruas jalannya masih sangat mengkhawatirkan, luas, lebar, namun berlubang. Tapi tenang, jalanan cukup leluasa, tidak banyak kendaraan, masih nyaman untuk dilalui.
pelabuhan ini terbilang ramai dan menjadi jalur utama bagi moda transportasi laut untuk bepergian ke daerah kepulauan.
Di pelabuhan ini terdapat moda transportasi penyeberangan Roro menuju daerah-daerah di Kepulauan Riau hingga Kota Batam. Selain itu juga terdapat kapal Fery serta beragam moda transportasi laut menuju daerah-daerah jauh lainnya di sekitar Riau pesisiran. Saya dan Nurmin menaiki Roro. 
Bangkai Kapal di Bibir Pantai Tanjung Samak
Roro adalah kapal kecil tiga kali dari Fery. Kursinya tidak lebih dari 20 buah, sayang saya tidak menghitungnya kursinya. Awak kapalnya ada lima orang. 2 orang penjaga karcis, satu orang rider, satu orang asisten rider dan satu orang pengurus barang barang.
Jaraknya dari Kota Pekanbaru mencapai 140 kilometer dan 112 mil menuju perairan internasional Selat Malaka.
Berikut adalah Itenerary yang saya susun untuk kawan kawan jika ingin berkunjung ke Cik Manan dan Cik Lili di Sungai Tohor
Perjalanan 31 Mei – 5 Juni 2017
Pesawat           : Bandara International Husen Sastra Negara Bandung – Pekan Baru (Rp. 650.000 berubah ubah)
Travel Avanza : Pekan Baru – Tanjung Buton (Rp. 100.000,-)
Ferry Kecil      : Dermaga Tanjung Buton – Dermaga Sungai Tohor Kiri (Kecamatan Tebing Tinggi Timur). Rp. 120.000,-
Motor              : Dermaga Sungai Tohor Kiri – Dermaga Tanjung Sari 
Pongpong        : Dermaga Tanjung Sari – Dermaga Tanjung Samak Kabupaten Rangsang (Rp.10.000)
Ferry Besar      : Dermaga Tanjung Samak Kabupaten Rangsang – Pelabuhan Ferry Sekupang Batam Kepulauan Riau (Rp.120.000,-)
Taksi                : Pelabuhan Ferry Sekupang Batam Kepulauan Riau – Bandara International Hang Nadim Batam (Rp. 190.000,-)

Pesawat           : Bandara International Hang Nadim Batam – Bandara International Husen Sastra Negara Bandung (Rp. 750.000)

Akhirnya, saya bertemu Paman saya, Papap Adam, dijemput dengan kebahagiaan di Terminal Sekupang

Duduk di sebelah kiri Kapal Fery, bersebrangan dengan kami  Kota Singapura

Seumur umur naik Fery, ini Eksekutif banget, dear Cinta

Aku salah sepatu atau salah kostum?
Didalam kapal Fery Dumai dari Tanjung Samak menuju Pelabuhan Batam